Menemukan Makna Hidup di Hadapan Kematian

By Admin


Oleh : Ahmad Najib

Catatan:

Tulisan ini merupakan tanggapan pribadi atas tulisan “Saat Kematian Menjadi Pemandu” Oleh Ahsan Jamet Hamidi  yang dimuat di jakartamu.com

nusakini.com, - Entah mengapa, saya merinding saat membacanya. Mengapa pembicaraan tentang kematian—sesuatu yang niscaya dialami oleh setiap yang hidup—selalu mengguncang batin?

Di situlah persoalannya. Andaikan tidak ada kematian, atau setidaknya manusia tidak mengalami peristiwa mati, apa yang akan terjadi?

Hipotesis saya sederhana: mungkin tidak akan ada agama. Sebab agama hadir terutama untuk memberi jawaban tentang kematian dan siklus pasca-kematian. Namun jawaban ini tidak tanpa kritik. Albert Camus, misalnya, menyebut keyakinan akan kehidupan setelah mati sebagai “optimisme psikologis yang tidak menjawab persoalan hidup sama sekali.”

Ia melanjutkan, “andaikan kehidupan itu punya makna, mengapa juga harus berakhir dengan kematian?” Dari sinilah Camus mendeklarasikan absurdisme: begitu banyak perjuangan yang belum selesai, tetapi harus berhenti oleh kematian. Lalu apa artinya hidup? Bukankah itu absurd?

Karena itu, memberi makna hiduplah yang semestinya kita cari, bukan terus-menerus mempersoalkan kematian yang sudah pasti. Friedrich Nietzsche, dalam Ecce Homo, menulis kalimat yang menggugah: “As my father I have already died, as my mother I still live and grow old.” Ayahnya wafat ketika ia masih kecil, dan ia dibesarkan oleh ibunya. Dua sisi ini—kematian sang ayah yang seolah menegasikan hidup, dan asuhan sang ibu yang mengafirmasi kehidupan—diakomodasi Nietzsche tanpa kontradiksi.

Dari sini ia mengembangkan argumen kritis untuk meruntuhkan otoritas moral lama, agar hidup dapat tampil lebih bermakna dari sebelumnya. Dalam moralitas baru itu, manusia—demi tetap hidup—harus “membunuh Tuhannya”. Dalam kematian Tuhan, manusia justru menemukan kehidupan. God is dead. Inilah fondasi pemikiran filosofisnya.

Namun, apa pun yang terjadi dalam hidup, kematian seharusnya tidak dipandang semata sebagai tragedi. Seperti dikatakan Cak Nur, kematian mesti dihayati sebagai pengalaman spiritual. Dan dalam hidup ini, sebagaimana dilukiskan Johann Wolfgang von Goethe dalam Faust, hidup adalah masa kanak-kanak keabadian; setiap langkah harus dijadikan tujuan. Der Zweck des Lebens ist das Leben selbst—tujuan hidup adalah kehidupan itu sendiri.

Penekanan pada kehidupan, bukan pada kematian, itulah yang semestinya kita kedepankan. Kita memang kerap diingatkan tentang kematian, tetapi justru di dalam hiduplah kematian itu dipersiapkan. Rasanya tidak afdal jika pernah nyantri di Gontor tanpa mengutip dawuh guru: Mbah Sahal pernah berpesan, wong urip ngenteni patine, sak jeroning urip toto-toto pirantine. Manusia itu menunggu kematiannya; maka selagi menunggu, persiapkanlah bekalnya.

Agaknya, dari sinilah kita menemukan tautan dengan ungkapan Pak Zar: hidup sekali, hiduplah yang berarti.

Ya. Hidup yang berarti itulah yang kelak menjadi bekal kita untuk mati. Karena itu, kita seharusnya tak pernah ragu meneriakkan:

Berani hidup tak takut mati.

Takut mati jangan hidup.

Takut hidup, mati saja!